Gerakan mahasiswa pada zaman dulu menjadi parameter gerakan mahasiswa sekarang. Suatu gerakan mahasiswa akan hancur berawal ketika sebuah gerakan tersebut gagap dalam menghadapi sebuah realita. Gerakan mahasiswa yang gagap tersebut, tidak akan eksis. Gerakan mahasiswa harus bisa beradaptasi atau menyesuaikan dengan kultur sekarang. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat seharusnya menjadi check and balance terhadap pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya. Namun, bukan berarti bahwa semua kebijakan pemerintah itu adalah salah. Jika kebijakan yang diambil pemerintah tersebut memang sudah benar, maka jangan mencari-cari alasan untuk menyalahkan. Mahasiswa sebagai insan intelektual yang mempunyai tataran pendidikan tertinggi dalam masyarakat, hendaknya mampu berpikir secara intelek. Seringnya terjadi benturan/clash antar sesama karena tidak adanya ruang dialog. Semua butuh bicara dan didengarkan. Demikian cara kita mengelola suatu organisasi gerakan.
Gerakan mahasiswa dunia di pentas sejarah memiliki ciri dan pola gerakan yang berbeda-beda. Gerakan mahasiswa lahir dari kondisi yang dihadapi masyarakat yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita negara dan harapan masyarakat. Mahasiswa seharusnnya mampu merespon berbagai situasi dan kondisi tersebut atas dasar kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, pengabdian sosial dan kepedulian politik. Eskalasi gerakan mahasiswa pada umumnya adalah tuntutan otonomi dan kebebasan, kritis terhadap kebijakan pembangunan, tuntutan dan tekanan terhadap yang korup dan otoriter, penggulingan rezim yang berkuasa dan mendorong demokrasi.
Gerakan mahasiswa sekarang adalah meninggalkan pola gerakan sospol yang primitif dan konservatif menuju gerakan mahasiswa berbasis intelektual. Mahasiswa harus bergerak sesuai perannya.
membantu korban merapi
Merakyat bersama warga medokan, kejawan dekat ITS
Peduli generasi.. #itu bikin posternya H-1 jam aksi. jadi kayak gitu. hehee
Saat menjadi murid di Sekolah Pelopor Mahasiswa ITS Angkatan IV
Majid Cheng Ho Surabaya bersama adek2 di liburan ceria KAMMI
Adek-adek kejawan Gebang
Adek-adek Taman Baca Kawan Kami, Putat Dolly
Awalnya aku ragu menemui mereka. Bagaimana mungkin aku bisa? Aku tak biasa. Seseorang dengan sabar selalu mengajakku kesana menemui mereka. Tapi waktu tak mengijinkanku hingga suatu saat keadaan memang mengharuskanku pergi ke sana menemui mereka. (kesana? Kemana? Mereka? Siapa?)
Begitu tiba di depan sekolah kecil itu, betapa terkejutnya aku. Sekitar 20-an anak kecil berhambur keluar mengetahui kehadiranku sambil berteriak-teriak. Satu per satu mereka menyalami dan mencium tanganku. Akupun dihujani pertanyaan-pertanyaan dari mereka, “Namanya siapa Kak? Namanya siapa? Kok datangnnya telat Kak? Sendirian Kak?”. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang hanya aku jawab dengan senyuman. Tiba-tiba keraguan yang selama ini aku khawatirkan hilang setelah melihat wajah-wajah polos itu. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun mengenal mereka. Satu persatu mulailah aku tahu namanya Laila, hani, lailil, ula, wildan, dan belasan anak lainnya.
Belajar Sore Hari
Pekan-pekan berikutnya aku mulai rajin ke tempat itu. Belajar, bermain, bercerita dan tertawa bersama mereka. Mendengarkan kisah-kisah mereka. Ada kerinduan tersendiri ingin bertemu dengan mereka yang haus akan ilmu. Pernah suatu ketika aku tidak datang kesana dan keesokan harinya barulah aku tahu ternyata mereka sangat menanti kehadiran kita, kakak-kakak pengajar.
Anak-anak kecil itu membuatku semakin bersemangat. Semangat mencari ilmu dan semangat mengajarkannya. Rasa penat dan capek akan tugas-tugas kuliah hilang ketika berada di sekitar mereka. Mereka mampu mengalihkan dan membawaku ke dunianya. Mereka mengajariku untuk selalu bersyukur ditengah keterbatasannya, tersenyum ditengah himpitan dan bersemangat menjalani kehidupan. Senang sekali melihat tingkah laku mereka. Ada yang aktif sekali sering tanya ini itu, ada yang pendiam banget semakin ditanya semakin diam, ada yang bandel sekali kerjaannya hanya berlarian kesana kemari dan tidak mau membuka buku apalagi belajar jika tidak diancam dengan penghapus papan tulis, ada yang sukanya protes terus, ada yang rajin dan pintar sekali diajari sekali langsung bisa, ada yang susah banget diajarin walau berulang-ulang diberi tahu caranya.
Merindukan kebersamaan dengan mereka, adek-adek tercinta. Suasana di sebuah sekolah setiap jum’at sore. Banyak hal dan pelajaran yang didapatkan. Banyak kejadian-kejadian indah dan lucu. Masih teringat mereka memberi sebuah puisi kepada kami, masih teringat ketika aku kesulitan menjawab pertanyaan dari mereka, “Apa nama jalan yang dibangun Daendles??” Hemm..pelajaran IPS kelas berapa ya..Masih teringat juga ketika aku mengunci mereka dari dalam kelas karena mereka tidak mau belajar gara-gara main bola, masih teringat susahnya melerai mereka ketika berkelahi, yang satu dilerai yang lain mulai, masih teringat ketika memberi semangat kepada mereka saat putus asa belajar karena tidak bisa (Jika aku putus asa belajar jadi teringat semangat mereka).
Ahaaaiiiii...Adek-adek unyu penuh semangat
Merindukan teriakan itu. KAM. “Kelompok Anak Muslim!! Sholih sholihah Cerdas Ceria, Allahu Akbar!!”
*BPU 2010-Bersatu Menyatu-Melayani Umat dengan sepenuh hati
*PKA-Program Kakak Asuh 2009
NB: Gambar-gambar di atas adalah adek-adek binaan SSC (Social Service Center) KAMMI Sepuluh Nopember. Gambar adek-adek BPU/PKA lupa naruhnya..
“Jika malam ini adalah malam itu, gelap pekat hanya ada berkas cahaya rembulan menerangi yang memaksa menembus pepohonan. Desiran angin yang menerpa dedaunan. Dingin tak tertahankan. Menusuk tulang belulang. Tapi, suara itu masih saja berteriak-teriak di tengah hembusan angin malam. Kadang terdengar suara beberapa perempuan dengan lantang dan keras, kadang suara beberapa laki-laki dengan nada membentak, kadang banyak dan bersamaan hingga tak jelas apa yang dikatakan. Jika malam ini adalah malam itu, berdiri tegak tanpa gerak. Diam memandang lurus ke depan. Menahan kantuk yang teramat sangat. Aku dan mereka sudah terbiasa. Terbiasa dengan dinginnya malam itu, terbiasa dengan menahan kantuk itu, terbiasa dengan posisi tegak itu, serta terbiasa dengan suara-suara dan bentakan-bentakan itu yang membuat kami menjadi orang-orang PEMBERANI” @hutan pinus Gendingan malam pembantaraan 2008
Satriyo Gondo Kusumo-Maduretno Pawukir Kencono dalam episode Penerimaan Tamu Ambalan
Semakin sore semakin banyak yang berguguran. Awalnya, barisan kami rapi, penuh dan teratur. Satu, dua orang mulai berguguran. Hingga akhirnya separo dari pasukan kami habis. Hanya tinggal beberapa gelintir orang saja yang masih bertahan. Tidak sadar aku termasuk orang yang masih bisa bertahan dengan sisa-sisa tenaga dan peluh yang tak henti-hentinya bertetesan. Entah berapa derajat suhunya waktu itu. Panas. Panas sekali, seolah matahari tepat berada di atas kepala. Di barisan terdepan itu, aku tak berani menoleh ke belakang, takut jika ikut jatuh berguguran. Baru setelah perjuangan itu selesai, kubalikkan badanku. Terkejut karena barisan di belakangku sudah tak bersisa. Tinggal beberapa orang saja. Benar-benar perjuangan yang menghabiskan banyak korban. @upacara PTA 2006.
Jika teringat siang itu, dimulai dengan panggilan khas dari kakak-kakak tercinta kepada adik kelasnya. “Untuk kelas X, pimpinan saya ambil alih. Untuk membentuk 10 bershaf, setengah lengan lencang kanaaaan grak!!” Mendengar suara itu, yang tadinya duduk segera beranjak lari, yang tadinya minum segera berhenti dan lari, yang tadinya jalan bergegas untuk berlari. Intinya satu, yaitu lari. Lari menghampiri suara itu untuk membentuk barisan yang diperintahkan. Lari agar tidak melebihi 10 hitungan. Tetapi selalu saja lebih dari 10 hitungan itu. Alhasil ambil posisi konsekuensi. “Pa(putra) hadap serong kanan grak. Pi(putri) hadap serong kiri grak. Ambil posisi konsekuensi 10 kali. Mulai! ” push-up dan scotjump menjadi makanan bagi kami setiap kali melakukan kesalahan yang tidak sesuai aturan. @sesi pengambilan alih barisan
Jika malam ini adalah malam itu, mau makan saja..hemm harus pake laporan. “Lapor!! nama xxx dari sangga pendobrak pi. Siap candle light dinner. Laporan selesai!” Di tengah lapangan, diterangi temaram sinar lilin, dengan barisan yang rapi sekali, kami duduk. Satu orang memimpin doa mau makan. Makan tanpa suara dengan 3 jari tangan. Diam seribu bahasa. Harus habis tak bersisa. Dan jangan sampai karet gelang hilang karena itu adalah tiket makan untuk esok harinya. Tidak hanya itu, kesabaran kita diuji ketika harus berbaris rapi mengantri cuci tangan. Dua ember untuk satu ambalan. Kisah makan malam lain: “Lapor! Nama xxx motto hidup yyy siap melaksanakan sunah Rasul. Makan ketika lapar berhenti makan sebelum kenyang. Dan tidak ada yang tersisa. Laporan selesai!” senyum 3 jari. Periksa kebersihan kuku (masih teringat ketika beberapa jariku dipukul dengan penggaris kayu gara-gara motong kukunya tidak bersih. Perasaan dulu sudah dipotong pendek-pendek tapi disuruh motong lagi).Kisah lain yang seru diceritakan lain kali saja. @makan malam versi padvinderij
Checklist "Pelaksanaan" saat jadi senior nii
“Kami anak-anak yang ada di desa ini, berjanji untuk meneruskan cita-cita bangsa. Membangun negeri tempatku dibesarkan...bla bla” #lupa. Bisa ditebak. Ketika alumni dan guru-guru berdatangan. Tidak lupa makanan adat yang dibagikan: klepon dan wedang jahe. @api berkobar-kobar di tengah lapangan.
Jika malam ini adalah malam itu. Putih di dalam hitam. Bayangan putih menyebar di seluruh penjuru sekolah. Tak sedikit yang pingsan, jatuh berguguran, lari mundur berbalik kebelakang. Takut dengan paradigmanya sendiri. (Jadi ingat pertama kali mendengar kata paradigma disini). Ada yang sok sokan pemberani, tapi akhirnya mutung ditengah jalan. Ada yang nekat memberanikan diri sambil lari-lari. Kaget,tekejut,jantungan,...Belum lagi proses pencariannya. Sudah jalannya penuh rintangan, pencariannya pun tidaklah semudah yang dibayangkan.@ekspedisi perjuangan mencari badge sangga
Perjalanan ternyata masih panjang...esok hari tantangan sudah menghadang tapi tetap kita hadapi dengan senyuman. Dini hari sudah dibangunkan. Setelah sholat malam, mulailah senam burung hantu. *eh sepertinya lain cerita.bukan pas PTA deh kalo ini. Ya, esok hari. Menyeberang sungai dengan tali yang diikatkan di pohon pada dua sisinya. Siapa yang tidak hati-hati menyeberang, dia akan jatuh ke dalam derasnya arus sungai. Mengukur kedalaman sungai, menghitung kecepatan arusnya, mencari kerikil-kerikil istimewa, menyeberangi deras alirannya. Meloncat-loncat ke batu, terpeleset, naik lagi, terpeleset, jatuh, bangkit lagi. Kuyub. Pernah juga merasakan 2 biji kacang atom dimakan 8 orang.*geje. @pos celup menjelajah hutan, tafakur alam harusnya.
Sekelumit kisah lima tahun yang lalu. (btw masih ingat kata “sekelumit?” kata ini punya cerita sendiri. Hanya bisa tersenyum kalo mengingatnya). Banyak sekali. Banyak hal yang tak terlupakan. Apalagi saat tim bowden powell dan olive berjuang di ITS. Alhamdulillah, mendapat juara umum, berangkat dengan semangat pulang dengan hasil yang memuaskan. (saat itu..seakan rasa capek menjadi hilang). Jaga sikap jaga sikap jaga sikap nanti kita disuruh push-up. (gak mau!!) kalo enggak3x, harus jaga sikap. Jaga sikap!! Udah dulu3x kita pamit dulu...*bersambung,,,
“Dari kaki gunung lawu, mereka dilahirkan sebagai generasi penerus bangsa. Dia yang ada di sana bediri tegak dan tenang. Memandang jauh ke depan dengan penuh percaya diri. Hakikat hidupnya adalah perjuangan. Iman dan taqwa tertanam kuat di sanubarinya..” *sekelumit sandi satriyo gondo kusumo maduretno pawukir kencono. Teringat walaupun samar-samar..
Persaudaraan itu seutuhnya tentang rindu. Yang membuat selalu tak sabar ingin bertemu. Membuat terasa rugi jika tak berbagi. Ini adalah tentang hati-hati yang terikat. Tentang doa-doa yang saling betaut. Dia tulus yang menjelma. Dia terasa rumit tuk diungkap. Namun nyata dalam kata sederhana. Dia dalam tuk diselami karena dia adalah iman yang berupa makna. Mereka tidak disatukan karena ikatan darah. Namun, diantara mereka telah tumbuh cinta. Mereka tidak disatukan karena kesenangan dunia. Tapi hubungan mereka begitu mesra. Ya, aqidah lah yang menyatukan hati mereka dan kami menyebutnya dengan ukhuwah.
Apa kata mereka: Ukhuwah itu.... “Selalu berusaha mengetahui dan mencari tahu kondisi saudaranya, selalu mengenal tanpa harus dikenal, selalu mengingat tanpa harus diingat,selalu menyapa tanpa harus disapa, dan saling menguatkan karena kita adalah saudara seiman.” (Yuni Dwi K 09)
“Ukhuwah adalah istana, tempat menyulam tangis, menjaring tawa dan tempat dimana tidak ada tempat lagi untuk menampung jarik-jarik luka habis tercakar. Ukhuwah adalah jemari yang sesak oleh genggaman hangat untuk bergerak, melompat dan berlari bersama menghimpun tawa yang tercecer.” (Ayu Pramita 09)
“Ukhuwah itu..ketika kamu pura-pura ngambek saat aku mulai nyebelin di jalan dakwah dan kemudian mengembalikannya pada semangat” (Nurul Arofah 09)
“Ukhuwah itu laksana kopi. Hangat dan manis dalam tiap pertemuan. Dan kekuatan aromanya,sebagaimana kuatnya ikatan hati yang terbalut doa” (Dinar Ariana 09)
“Ukhuwah itu, rame rasanya. Kadang manis asam asin. Ada saatnya bertemu ada saatnya berpisah, Ada saatnya kesel ada saatnya seneng, pokoknya rame. Ukhuwah itu, saling mendoakan, mengingat saudara2nya, menyebut namanya di sela doa-doa.” (Fauziyah Rakhmawati 09)
“Ukhuwah itu seperti hanlnya kita melukis lukisan yang belum jadi, kita kan terus melukis dan selalu berusaha menyempurnakan lukisan itu” (Addin Fitriyani 09)
“Ukhuwah itu..aku, ant dan mereka. Meski tak berasa (hambar), tapi nikmat saat semuanya terasa lapar hehee, Ash shaf bersatu tak bisa dikalahkan” (Saldhyna Di Amora 09)
“Saling mengingatkan dalam kebenaran itu ukhuwah, merawat kawan yang sakit itu ukhuwah, masuk surga ngajak-ngajak temen itu juga ukhuwah..” (Choirun Nisak 09)
“Seorang diantara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR.Bukhari dan Muslim)
"Sesungguhnya di sekitar Arasy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, dan di atas mimbar-mimbar tersebut terdapat orang-orang di mana pakaian mereka adalah cahaya, dan wajah mreka adalah cahaya.Mereka bukan nabi, dan bukan pula syuhada'. Para nabi, dan syuhada' iri kepada mereka." Ditanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kita." Rasulullah saw. bersabda, "Mereka saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Diriwayatkan An-Nasai. Hadits ini shahih).
Salah satu dari tujuh orang yang dilindungi Allah di bawah lindungan-Nya pada hari tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena-Nya dan berpisah karena-Nya.
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” (Az-Zukhruf: 67)
“Bagaimana pendapatmu jika ada dua orang dan yang ketiganya adalah Allah??”
DIKNAS Surabaya, 11-11-‘11 Gedung C Kamar C-II No.11