page

Senin, 12 Desember 2011

Dari Kaki Gunung Lawu Mereka Dilahirkan sebagai Generasi Penerus Bangsa


"Pembantaian" upsss Pembantaraan. Jaga Sikap!!!


“Jika malam ini adalah malam itu, gelap pekat hanya ada berkas cahaya rembulan menerangi yang memaksa menembus pepohonan. Desiran angin yang menerpa dedaunan. Dingin tak tertahankan. Menusuk tulang belulang. Tapi, suara itu masih saja berteriak-teriak di tengah hembusan angin malam. Kadang terdengar suara beberapa perempuan dengan lantang dan keras, kadang suara beberapa laki-laki dengan nada membentak, kadang banyak dan bersamaan hingga tak jelas apa yang dikatakan. Jika malam ini adalah malam itu, berdiri tegak tanpa gerak. Diam memandang lurus ke depan. Menahan kantuk yang teramat sangat. Aku dan mereka sudah terbiasa. Terbiasa dengan dinginnya malam itu, terbiasa dengan menahan kantuk itu, terbiasa dengan posisi tegak itu, serta terbiasa dengan suara-suara dan bentakan-bentakan itu yang membuat kami menjadi orang-orang PEMBERANI” @hutan pinus Gendingan malam pembantaraan 2008

Satriyo Gondo Kusumo-Maduretno Pawukir Kencono dalam episode Penerimaan Tamu Ambalan



Semakin sore semakin banyak yang berguguran. Awalnya, barisan kami rapi, penuh dan teratur. Satu, dua orang mulai berguguran. Hingga akhirnya separo dari pasukan kami habis. Hanya tinggal beberapa gelintir orang saja yang masih bertahan. Tidak sadar aku termasuk orang yang masih bisa bertahan dengan sisa-sisa tenaga dan peluh yang tak henti-hentinya bertetesan. Entah berapa derajat suhunya waktu itu. Panas. Panas sekali, seolah matahari tepat berada di atas kepala. Di barisan terdepan itu, aku tak berani menoleh ke belakang, takut jika ikut jatuh berguguran. Baru setelah perjuangan itu selesai, kubalikkan badanku. Terkejut karena barisan di belakangku sudah tak bersisa. Tinggal beberapa orang saja. Benar-benar perjuangan yang menghabiskan banyak korban. @upacara PTA 2006.

Jika teringat siang itu, dimulai dengan panggilan khas dari kakak-kakak tercinta kepada adik kelasnya. “Untuk kelas X, pimpinan saya ambil alih. Untuk membentuk 10 bershaf, setengah lengan lencang kanaaaan grak!!” Mendengar suara itu, yang tadinya duduk segera beranjak lari, yang tadinya minum segera berhenti dan lari, yang tadinya jalan bergegas untuk berlari. Intinya satu, yaitu lari. Lari menghampiri suara itu untuk membentuk barisan yang diperintahkan. Lari agar tidak melebihi 10 hitungan. Tetapi selalu saja lebih dari 10 hitungan itu. Alhasil ambil posisi konsekuensi. “Pa(putra) hadap serong kanan grak. Pi(putri) hadap serong kiri grak. Ambil posisi konsekuensi 10 kali. Mulai! ” push-up dan scotjump menjadi makanan bagi kami setiap kali melakukan kesalahan yang tidak sesuai aturan. @sesi pengambilan alih barisan

Jika malam ini adalah malam itu, mau makan saja..hemm harus pake laporan. “Lapor!! nama xxx dari sangga pendobrak pi. Siap candle light dinner. Laporan selesai!” Di tengah lapangan, diterangi temaram sinar lilin, dengan barisan yang rapi sekali, kami duduk. Satu orang memimpin doa mau makan. Makan tanpa suara dengan 3 jari tangan. Diam seribu bahasa. Harus habis tak bersisa. Dan jangan sampai karet gelang hilang karena itu adalah tiket makan untuk esok harinya. Tidak hanya itu, kesabaran kita diuji ketika harus berbaris rapi mengantri cuci tangan. Dua ember untuk satu ambalan. Kisah makan malam lain: “Lapor! Nama xxx motto hidup yyy siap melaksanakan sunah Rasul. Makan ketika lapar berhenti makan sebelum kenyang. Dan tidak ada yang tersisa. Laporan selesai!” senyum 3 jari. Periksa kebersihan kuku (masih teringat ketika beberapa jariku dipukul dengan penggaris kayu gara-gara motong kukunya tidak bersih. Perasaan dulu sudah dipotong pendek-pendek tapi disuruh motong lagi).Kisah lain yang seru diceritakan lain kali saja. @makan malam versi padvinderij

Checklist "Pelaksanaan" saat jadi senior nii


“Kami anak-anak yang ada di desa ini, berjanji untuk meneruskan cita-cita bangsa. Membangun negeri tempatku dibesarkan...bla bla” #lupa. Bisa ditebak. Ketika alumni dan guru-guru berdatangan. Tidak lupa makanan adat yang dibagikan: klepon dan wedang jahe. @api berkobar-kobar di tengah lapangan.

Jika malam ini adalah malam itu. Putih di dalam hitam. Bayangan putih menyebar di seluruh penjuru sekolah. Tak sedikit yang pingsan, jatuh berguguran, lari mundur berbalik kebelakang. Takut dengan paradigmanya sendiri. (Jadi ingat pertama kali mendengar kata paradigma disini). Ada yang sok sokan pemberani, tapi akhirnya mutung ditengah jalan. Ada yang nekat memberanikan diri sambil lari-lari. Kaget,tekejut,jantungan,...Belum lagi proses pencariannya. Sudah jalannya penuh rintangan, pencariannya pun tidaklah semudah yang dibayangkan.@ekspedisi perjuangan mencari badge sangga

Perjalanan ternyata masih panjang...esok hari tantangan sudah menghadang tapi tetap kita hadapi dengan senyuman. Dini hari sudah dibangunkan. Setelah sholat malam, mulailah senam burung hantu. *eh sepertinya lain cerita.bukan pas PTA deh kalo ini. Ya, esok hari. Menyeberang sungai dengan tali yang diikatkan di pohon pada dua sisinya. Siapa yang tidak hati-hati menyeberang, dia akan jatuh ke dalam derasnya arus sungai. Mengukur kedalaman sungai, menghitung kecepatan arusnya, mencari kerikil-kerikil istimewa, menyeberangi deras alirannya. Meloncat-loncat ke batu, terpeleset, naik lagi, terpeleset, jatuh, bangkit lagi. Kuyub. Pernah juga merasakan 2 biji kacang atom dimakan 8 orang.*geje. @pos celup menjelajah hutan, tafakur alam harusnya.

Sekelumit kisah lima tahun yang lalu. (btw masih ingat kata “sekelumit?” kata ini punya cerita sendiri. Hanya bisa tersenyum kalo mengingatnya). Banyak sekali. Banyak hal yang tak terlupakan. Apalagi saat tim bowden powell dan olive berjuang di ITS. Alhamdulillah, mendapat juara umum, berangkat dengan semangat pulang dengan hasil yang memuaskan. (saat itu..seakan rasa capek menjadi hilang). Jaga sikap jaga sikap jaga sikap nanti kita disuruh push-up. (gak mau!!) kalo enggak3x, harus jaga sikap. Jaga sikap!! Udah dulu3x kita pamit dulu...*bersambung,,,

“Dari kaki gunung lawu, mereka dilahirkan sebagai generasi penerus bangsa. Dia yang ada di sana bediri tegak dan tenang. Memandang jauh ke depan dengan penuh percaya diri. Hakikat hidupnya adalah perjuangan. Iman dan taqwa tertanam kuat di sanubarinya..” *sekelumit sandi satriyo gondo kusumo maduretno pawukir kencono. Teringat walaupun samar-samar..

"Dia yang ada di sana berdiri tegak dan tenang"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar